RINDANG KHAIRANI and JASMINE SETIYAWATI AGUS IMAM. Animal Lover Community Based on Ecohealth Concept As a Solution for Emerging Infectious Diseases (EID) Problem. Under the direction of HADRI LATIF.

.
In the recent decades, veterinary work has expanded from a concern of the health and disease of individual animals, to group of animals, public health, and business economics. Currently, we also know that environmental and ecological factors are fundamental importance for health. Many evidence linking health to ecological and environmental factors, such as climate change, biodiversity loss, and human behavior changes. These issues had stimulated a new approach, called ecohealth or ecosystem health.
This new approach can be a solution of the major problems which become the focus of public health, especially the spread of emerging infectious diseases (EID). In recent years, there has been an increasing documentation and recognition that the majority of emerging diseases are zoonotic diseases.
Zoonotic disease (zoonosis) control not only of human health aspects, but also need the aspects of animal and environment. Therefore, veterinarians that play important role in ensuring animal and public health, directly involved in prevention and control of zoonosis. Ecohealth as a new approach to responding to the EID challenge is a transdisciplinary approach, which known as integration of researches and practices from both academic disciplines and non-academic knowledge system. The transdisciplinary character of ecohealth brings together vets, political leaders, community members, scientist, field practitioners, academic experts and business owners to solve the global problems.
As community members who ensure public health, veterinarians should take part in public education. The making of ‘Animal Lover Community’ which focuses on living environment, with the main objectives of public education based on ecohealth approach, will be one effective solution in reducing the spread of infectious diseases with ‘grass root’ base. This community will be empowered as a pioneer in the campaign for healthy living with animals. Public health promotion is certainly going to be our big vision. A healthy environment and a rising standard of life; it will be a reality, soon.

.
Keywords : ecohealth, emerging infectious diseases, animal lover community, sosiocultural, health promotion

 

*Paper terpilih sebagai Juara Favorit Kategori Lingkungan dalam Kompetisi Karya Tulis Ilmiah Tulisan Untuk Negeri, Rangkaian Acara Mipa Untuk Negeri. FMIPA UI – Juli 2011.

“It is a world where the enchanted forest of the fairy tales has become the poisonous forest in which an insect that chews a leaf or sucks the sap of a plant is doomed. It is a world where a flea bites a dog, and dies because the dog’s blood has been made poisonous; where an insect may die from vapors emanating from a plant it has never touched; where a bee may carry poisonous nectar back to its hive and presently produce poisonous honey.

…How could intelligent beings seek to control a few unwanted species by a method that contaminated the entire environment and brought the threat of disease and death even to their own kind?”1

 

Sekitar tahun 1960an, era dimana teknologi dan kegiatan ekonomi dikembangkan secara luas untuk mencapai kesejahteraan hidup manusia di bumi, Rachel Carson, seorang ilmuwan biologi dalam bukunya Silent Spring menyuarakan keprihatinannya terhadap kerusakan lingkungan hidup yang disebabkan oleh penggunaan insektisida secara besar-besaran. Saat itu, penggunaan insektisida dan herbisida diketahui telah menimbulkan dampak buruk berupa kerusakan lingkungan satwa liar dan habitatnya serta ancaman terhadap kesehatan manusia, baik berupa penyakit maupun kematian karena keracunan.

Sorotan terhadap kondisi lingkungan hidup dan akibat yang timbul dari kegiatan manusia di muka bumi telah muncul sejak lama. Hingga saat ini, isu tersebut terus berkembang dan membuktikan bahwa kerusakan lingkungan hampir selalu dipicu oleh perubahan antropogenik dalam skala luas, yakni interaksi manusia terhadap lingkungannya. Kajian ekosistem yang sejak dulu telah banyak dikemukakan seperti dalam Odum ecological perspective, Leopold’s land ethic, serta karya Rachel Carson yang telah disebutkan di atas, menjadi mata rantai dokumentasi perspektif manusia terhadap alam, hingga kini mengarah ke masalah lain, yakni terancamnya kesehatan manusia oleh penyakit-penyakit menular baru muncul.

 

Pertanian, Kesehatan, dan Lingkungan, Dapatkah Disatukan?

Kegiatan pertanian akan terus berkembang seiring dengan pertumbuhan populasi manusia. Semakin banyak manusia menghuni suatu tempat, peningkatan kegiatan untuk mengambil energi dari alam tidak dapat dihindari. Sejak konsep ekosistem dikenal, hubungan antara manusia dan alam tidak akan pernah putus, baik antara manusia dengan tumbuhan, manusia dengan hewan, maupun manusia dengan unsur abiotik di alam.

Pertanian yang merupakan kegiatan utama manusia untuk menghasilkan bahan pangan tidak dapat dilepaskan dari aspek pengelolaan lingkungan. Penggunaan lahan untuk praktik pertanian selalu berarti membuka lahan untuk pemukiman manusia, yang akhirnya meningkatkan interaksi manusia dengan lingkungan hidup. Tidak hanya itu, penggunaan ternak dalam aktivitas pertanian dan pemanfaatannya untuk sumber pangan manusia tidak lain juga menjadi salah satu faktor yang menghubungkan manusia dengan lingkungan sekitarnya.

Jadi, dapatkah aspek pertanian, kesehatan, dan lingkungan disatukan dalam sebuah konsep? Tidak ada keraguan dalam menjawab pertanyaan di atas jika mengingat alam merupakan sumber terpenuhinya segala kebutuhan manusia. Pangan sebagai kebutuhan primer manusia telah membawa isu kesehatan dan perubahan ekosistem global ke meja makan kita. Kegiatan manusia dalam mengkonsumsi pangan telah mengaitkan banyak hal di dalamnya, termasuk kesehatan, penyakit, praktik pertanian, penggunaan lahan, perdagangan global, kemiskinan, serta perubahan iklim.2

Alam sebagai sumberdaya utama mempunyai daya regenerasi dan asimilasi yang terbatas. Namun, tuntutan akan kebutuhan membuat kegiatan eksploitasi dan pengambilan sumberdaya alam menjadi tidak rasional.3Aktivitas pemenuhan kebutuhan hidup manusia akhirnya telah membawa alam ke dalam banyak perubahan, diantaranya alih guna lahan hutan, domestikasi satwa liar, pemekaran daerah urban, migrasi internasional, dan penggunaan teknologi untuk intensifikasi pertanian. Perubahan yang berlangsung global dan dalam jangka waktu lama ini secara tidak langsung mempengaruhi sistem raksasa lain yang juga berkaitan erat dengan kelangsungan hidup manusia, yaitu kemunculan dan transmisi penyakit.

Dewasa ini isu kemunculan emerging infectious disease (EID) atau penyakit menular baru muncul dan re-emerging infectious disease (REID) atau penyakit menular baru muncul kembali selalu dikaitkan dengan perubahan lingkungan global akibat aktivitas manusia. Faktanya, kemunculan kedua jenis penyakit tersebut telah menimbulkan banyak kerugian dan kepanikan di banyak tempat di dunia, seperti munculnya SARS, avian influenza, HIV/AIDS, Nipah virus, Variant Creutzfeld-Jakob disease, malaria, Lyme disease, dan sebagainya.4  

Hubungan antara perubahan lingkungan global dan munculnya penyakit dapat dijelaskan oleh konsep segitiga epidemiologi, yang menyebutkan bahwa kemunculan penyakit dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yaitu inang, agen, dan lingkungan. Perubahan lingkungan global ini menyebabkan ketiga aspek tersebut juga mengalami perubahan, baik yang bersifat reversible maupun irreversible. Resistensi agen penyakit terhadap obat, suseptibilitas inang terhadap infeksi, dan perubahan iklim merupakan beberapa contoh perubahan alam yang mendukung munculnya penyakit.5 Hal ini semakin ditegaskan oleh kenyataan bahwa penyakit-penyakit baru muncul sebagian besar merupakan penyakit yang menular melalui makanan (foodborne disease) dan melalui vektor (vectorborne disease).2,6

 

Ecohealth, Solusi Permasalahan Global

Telah terbukti bahwa kesehatan manusia merupakan hal yang berkaitan dengan banyak faktor yang saling mempengaruhi satu sama lain. Karena itulah, diperlukan sebuah solusi yang dapat menanggulangi permasalahan secara global, tidak hanya dari sisi tertentu. Kajian-kajian mengenai masalah kesehatan manusia saat ini, termasuk yang dipelajari dalam ilmu kesehatan masyarakat veteriner, menunjukkan bahwa ecohealth merupakan satu pendekatan yang dapat menjadi solusi terhadap masalah tersebut.

Ecohealth mempelajari bagaimana perubahan dalam ekosistem bumi (lingkungan fisik, biologi, sosial, dan ekonomi) dapat mempengaruhi kesehatan manusia.7 Pendekatan ini memandang isu-isu global sebagai kajian dimana berbagai institusi dapat bekerja sama (tanpa melihat batas antara disiplin ilmu kesehatan, kedokteran, pertanian, lingkungan, dan ekonomi) dan dapat memainkan perannya secara optimal.8 Pendekatan ini juga mendukung para pemangku kebijakan untuk menciptakan solusi yang koheren dan berjangka panjang.

Pendekatan ekosistem secara umum memiliki pandangan bahwa kesehatan ialah hasil dari interaksi yang terjadi di dalamnya dari berbagai skala, baik manusia dan hewan secara individu maupun bersama. Ecohealth mempunyai tujuan besar yang harus menjadi perhatian manusia, yaitu kesehatan manusia dan hewan yang berkesinambungan melalui peningkatan kesehatan ekosistem.

Sejak masalah kemunculan penyakit diketahui muncul dari perubahan lingkungan global yang juga disebabkan oleh kegiatan-kegiatan pertanian, pendekatan ecohealth seharusnya mampu diterima sebagai solusi untuk memperbaiki kesehatan ekosistem, melalui perbaikan kegiatan pertanian menjadi ramah lingkungan dan berkelanjutan. Transdisiplin, sebagai salah satu pilar utama dalam konsep ecohealth, menunjukkan bahwa penanggulangan masalah global ini membutuhkan kerja sama dari berbagai pihak, kajian dari berbagai disiplin ilmu, kesadaran yang sama, serta tindakan yang terintegrasi dalam merespon permasalahan yang ada.4      

 

 

Transdisiplin: Sebuah Tugas Jangka Panjang

Merupakan sebuah keniscayaan untuk menanggulangi permasalahan global saat ini melalui kerja sama dari berbagai pihak. Pertanian, lingkungan hidup, dan kesehatan ialah disiplin ilmu yang terpisah dan sangat luas, serta dikuasai oleh orang-orang dari latar belakang ilmu yang berbeda. Namun, sudah selayaknya dalam merespon masalah kesehatan manusia yang bersumber dari kesehatan ekosistem ini dilakukan sebuah tindakan penanggulangan transdisiplin.

Transdisiplin merupakan suatu upaya multidisiplin, all hands on deck, melibatkan seluruh pihak yang terkait untuk duduk bersama, berdiskusi dan merumuskan solusi. Hal ini juga berarti tindakan yang menghapus batas antara satu disiplin ilmu dengan lainnya, menggabungkan peneliti dan praktisi bersama-sama, melakukan pertukaran informasi dan saling mengevaluasi. Pendekatan ecohealth membutuhkan kontribusi dari para akademisi atau staf ahli, praktisi lapang, wakil masyarakat, peneliti, pemangku kebijakan, serta pelaku bisnis untuk dapat mencapai solusi yang menyentuh seluruh lini.9

Mahasiswa sebagai decoder, agen penggerak, seharusnya dapat bekerja sama, mengaplikasikan konsep transdisiplin dalam setiap tindakan penanggulangan masalah global. Mahasiswa adalah generasi penerus yang akan menempati posisi akademisi, praktisi lapang, wakil masyarakat, peneliti, pemangku kebijakan, pelaku bisnis, serta peran lainnya yang terlibat dalam pencapaian solusi. Sudah sepantasnya mahasiswa bergerak ke dalam, menggalang kerja sama antar mahasiswa agar tercapai kesolidan antar disiplin ilmu.

Pendekatan ecohealth sebagai solusi terhadap masalah pertanian, lingkungan hidup, dan kesehatan melalui tindakan transdisiplin memanglah suatu tugas jangka panjang bagi mahasiswa. Namun hal ini tidak berarti tidak dapat dimulai sejak saat ini. Mahasiswa IPB dalam hal ini, dapat mulai bekerja sama, sebagai akademisi yang mengkaji ilmu pertanian. Akan diperlukan kerja sama dari mahasiswa kedokteran hewan sebagai praktisi sekaligus pengkaji masalah kesehatan hewan dan manusia, mahasiswa pertanian sebagai praktisi pertanian berkelanjutan, mahasiswa kehutanan sebagai pengkaji aspek konservasi lingkungan hidup, dan mahasiswa-mahasiswa dari fakultas lainnya, yang turut dapat berdiskusi untuk merumuskan solusi bersama.

Ecohealth diibaratkan sebagai suatu kapal besar yang menampung berbagai pihak untuk menanggulangi masalah bersama. Bagi kami, mahasiswa, kapal tersebut harus bergerak, untuk mewujudkan pertanian, kesehatan, dan lingkungan yang lebih baik. Karena kami adalah penggerak, maka dalam setiap kapal yang bergerak, kami, mahasiswa, selalu menjadi nahkodanya.

 

 

 

 

Bibliografi

 

1 Carson R. 1962. Silent Spring. New York: Houghton Mifflin Company.

2 Waltner-Toews D. 2009. Food, Global Environmental Change, and Health: Ecohealth to The Rescue?. McGill Journal of Medicine 12(1): 85-89.

3 Soemarwoto O. 1985. Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Bandung: Penerbit Djambatan.

4 Parkes MW, Bienen L, Breilh J, Hsu L, McDonald M, Patz JA, Rosenthal JP, Sahani M, Sleigh A, Waltner-Toews D, Yassi A. 2005. All Hands on Deck: Transdisciplinary Approaches to Emerging Infectious Disease. EcoHealth Journal 2: 258-272.

5 Morens DM, Folkers GK, Fauci AS. 2004. Challenge of Emerging and Re-emerging Infectious Diseases. Nature 430(VII): 242-249.

6 Jones KE, Patel NG, Levy MA, Storeygard A, Balk D, Gittleman JL, Daszak P. 2008. Global Trends in Emerging Infectious Diseases. Nature 451: 990-993.

7Bazzani R, Noronha L, Sanchez A. 2009. An Ecosystem Approach to Human Health : Building a transdisciplinary and participatory research framework for the prevention of communicable diseases. [terhubung berkala]. http:// www.globalforumhealth.org/forum8/forum8cdrom/OralPresentations/Sanchez%20Bain20%%20F8-165.doc. [15 Juni 2011].

8 Waltner-Toews D. 2009. Commentary. Eco-Health: a Primer for Veterinarians. Canadian Veterinarian Journal 50: 519-521.

9 Aguirre A, Wilcox BA. 2008. Editorial. EcoHealth: Envisioning and Creating a Truly Global Transdiscipline. EcoHealth Journal 5: 238-239.

 

 

*dikirimkan ke BEM KM IPB dalam rangka penyusunan buku kumpulan esai pergerakan mahasiswa ipb, desember 2011

assalamualaikum ^^

perkenalkan, Rindang Khairani. mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan IPB angkatan 45 (masuk tahun 2008). akrab dipanggil Ibon. sedang menyelesaikan tahun terakhir kuliah S1nya, sebelum mengambil pendidikan profesi kedokteran hewan.

menyukai beberapa hal, termasuk Forkom Alim’s dan ecohealth. menulis beberapa hal tentang perspektifnya tentang lingkungan dari latar belakang kedokteran hewan.

 

salam kenal :]

Rindang Khairani